Redirect SKRIPSI TERBARU: SKRIPSI PENDIDIKAN

Iklan

Showing posts with label SKRIPSI PENDIDIKAN. Show all posts
Showing posts with label SKRIPSI PENDIDIKAN. Show all posts

Monday, August 31, 2015

EFEKTIVITAS PERANGKAT PEMBELAJARAN VIRUS DENGAN STRATEGI METAKOGNITIF TERHADAP PEROLEHAN KOGNITIF SISWA SMA KELAS X


PENDAHULUAN
Penetapan pemerintah tentang nilai minimal yang harus diperoleh siswa pada saat UAN Tahun 2009 adalah 5,50 dapat dijadikan salah satu indikator rendahnya mutu pendidikan kita. Belum lagi berkembangnya isu konversi nilai hasil UAN, hal tersebut menambah buramnya wajah pendidikan kita. Informasi lain yang juga menggambarkan hal yang sama adalah berasal dari The Third International Mathematics and Science Study Repeat (TIMSS-R, 1999). Ia melaporkan bahwa peserta didik Indonesia menempati peringkat 32 untuk IPA dan 34 untuk matematika di antara 38 negara yang disurvei di Asia, Australia, serta Afrika (Tim BBE Depdiknas, 2002). Hasil belajar siswa yang rendah (khususnya IPA) dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang mereka alami sebelumnya. Dari fakta di atas, pertanyaan yang muncul adalah “Bagaimanakah sebaiknya proses pembelajaran IPA/Biologi yang terjadi di kelas?” Biologi merupakan salah satu bagian dari sains yang mempelajari tentang makhluk hidup, alam, dan lingkungan serta berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran biologi diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat”, sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Adakalanya materi biologi tidak dapat diarahkan dengan “berbuat” atau praktikum karena banyak memuat konsep abstrak, seperti pada materi pokok virus, sisstem endokrin, dan substansi genetika. Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus yang dapat mengatasi masalah tersebut. Salah satu strategi yang ditawarkan adalah metakognitif.
Definisi yang sederhana tentang strategi metakognitif adalah pengetahuan tentang prosesproses berpikir kita sendiri (Flavel dalam Arends, 2004). Lebih lanjut Marzano (1998) menyebutkan manfaat strategi metakognif bagi guru dan siswa adalah menekankan monitoring diri dan tanggung jawab siswa (monitoring diri merupakan kecakapan berpikir tinggi). Anak akan dapat meregulasi diri sendiri dengan melakukan perencanaan, pengarahan, dan evaluasi. Seorang anak yang sudah memiliki strategi metakognitif akan akan lebih cepat menjadi anak mandiri. Hal senada didukung oleh Susantini (2004, 2005) menyatakan bahwa melalui metakognif siswa mampu menjadi pebelajar mandiri, menumbuhkan sikap jujur, berani mengakui kesalahan, dan akan dapat meningkatkan hasil belajar secara nyata.
Dewasa ini kemampuan metakognitif dan berpikir tingkat tinggi lainnya belum banyak diberdayakan secara sengaja dalam proses pembelajaran di sekolah. Indikasinya banyak ditemukan Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2009 B-327 anak mengalami kesulitan belajar. Guru tidak menyadari bahwa hal ini dapat mempengaruhi proses belajar anak. Jika hal ini tidak diintervensi secepat mungkin, akan menyulitkan anak pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Menurut Royanto (2006), ada perbedaan mendasar antara strategi metakognitif dengan kognitif. Strategi kognitif membantu anak mencapai sasaran melalui aktivitas yang dilakukan. Kemampuan metakognitif membantu anak memberikan informasi mengenai aktivitas atau kemajuan yang dicapai. Di sini, strategi kognitif membantu pencapaian kemajuan, sedangkan strategi metakognitif memonitor kemajuan yang dicapai. Pemantauan metakognitif dan regulasi diri sangat membantu anak dalam aktivitas kognitif. Dengan memiliki pemantauan dan regulasi diri, seorang anak akan tahu di mana ia berada sehubungan dengan tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, maka anak dapat mengatur diri sendiri, lebih aktif berusaha mengembangkan diri, mampu memotivasi diri sendiri, menentukan tujuan, dan berusaha mencapai tujuannya. Karenanya dengan kemandirian yang dimilikinya niscaya keberhasilan akan lebih mudah diraih.
Anak yang memiliki strategi metakognitif akan segera sadar bahwa dia tidak mengerti persoalan dan mencoba mencari jalan keluar. Menurut Eggen & Kauchak (1996) dalam Corebima (2007), pengembangan kecakapan metakognitif pada siswa adalah suatu tujuan pendidikan yang berharga, karena kecakapan itu dapat membantu mereka menjadi self-regulated learner. Selfregulated learner bertanggung jawab terhadap kemajuan belajar diri sendiri dan adaptasi strategi belajar untuk mencapai tuntutan tugas.
Kemampuan akademik siswa merupakan hal penting untuk diperhatikan dalam pembelajaran (Winkel, 1996). Kemampuan akademik siswa berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Apabila dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok, maka ada kelompok siswa berkemampuan atas, berkemampuan menengah, dan berkemampuan bawah (Nasution, 1988). Keberadaan siswa berkemampuan atas, menengah, dan bawah di suatu kelas merupakan bentuk keanekaragaman.
Lebih lanjut Nasution (1988) menjelaskan, apabila siswa dengan tingkat kemampuan akademik berbeda diberikan pengajaran yang sama, maka hasil yang diperoleh juga akan berbeda sesuai dengan kemampuan akademik yang dimilikinya. Kelompok kemampuan atas dan kelompok siswa kemampuan bawah mempunyai kemampuan merespons proses pembelajaran yang berbeda Siswa dengan kemampuan atas, akan lebih mudah mengikuti pembelajaran sehingga lebih mudah dan lebih banyak memperoleh pengalaman belajar. Menurut Usman (1996), perolehan kognitif berhubungan dengan kemampuan siswa dalam mencari dan memahami materi pelajaran yang dipelajarinya. Temuan lain dari hasil penelitian (Corebima, 2005), siswa dengan kemampuan atas dapat mencapai academic life skill lebih dibanding siswa dengan kemampuan akademik bawah.
Dalam penelitian ini juga diperhatikan kelompok siswa dengan kemampuan atas dan siswa kemampuan bawah. Kelompok siswa dengan kemampuan tengah tidak diperhatikan agar diperoleh kelompok dengan perbedaan tegas. 
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh kemampuan siswa terhadap perolehan kognitif pada materi virus dengan menggunakan strategi metakognitif (2) mengukur efektivitas perangkat pembelajaran virus dengan menggunakan strategi metakognitif. Efektivitas perangkat pembelajaran ditinjau dari perolehan kognitif siswa kemampuan atas dan bawah.

Manfaat hasil penelitian ini adalah tersedianya contoh perangkat pembelajaran biologi dengan strategi metakognitif yang dapat memberdayakan kecakapan berpikir siswa SMA. Sehingga, dapat membantu guru biologi dalam mengatasi kesulitan memperoleh perangkat pembelajaran yang bermutu sekaligus dapat meringankan tugas guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Strategi metakognitif akan diterapkan di kelas dengan panduan Lembar Penilaian Pemahaman Diri (LPPD) yang sesuai dengan kultur siswa Indonesia. LPPD diyakini dapat memberdayakan kecakapan berpikir siswa. Selain itu, dalam menggunakan LPPD siswa dididik bersikap jujur, berani mengakui kesalahan dan menilai pemahamannya sendiri. Sikap-sikap tersebut sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah sosial di Indonesia saat ini. Sifak Indiana/ Efektivitas Perangkat Pembelajaran B-328. Akhirnya, hasil penelitian ini sangat berguna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Peningkatan SDM tersebut dilakukan dengan cara memberdayakan kecakapan berpikir siswa yang sangat diperlukan siswa dalam menghadapi era global.

METODE PENELITIAN
Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan diuji coba secara terbatas di SMAN 6 Surabaya. Populasi kelas X adalah 304 siswa (8 kelas). Sedangkan yang menjadi sampel penelitian adalah 39 siswa kelas X-7 yang dipilih secara random assignment, masing-masing ditentukan 15 siswa kemampuan atas dan 15 siswa kemampuan bawah. 
Rancangan penelitian yang digunakan adalah one group pretest-posttest design (Fraenkel and Wallen, 1993) dengan memperhatikan aspek kemampuan siswa. Data yang dikumpulkan adalah perolehan kognitif diambil melalui tes.
Analisis data yang digunakan adalah Anacova (SPSS Release 11) untuk melihat pengaruh kemampuan siswa terhadap perolehan kognitif. Pretes siswa sebagai kovariat, variabel yang dikendalikan dalam penelitian ini. Sebelum dilakukan analisis data, dilakukan uji asumsi homogenitas terlebih dahulu. Uji asumsi homogenitas menggunakan Levene’s Test. Jika asumsi terpenuhi dilanjutkan dengan analisis kovariat. Jika asumsi tidak terpenuhi, maka menggunakan analisis nonparametric Kruskal-Wallis Test. Efektivitas perangkat pembelajaran terhadap perolehan kognitif dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Rerata Postes – Rerata Pretes x 100%
Rerata Pretes
Hasil perhitungan yang diperoleh dibandingkan antara kelompok kemampuan atas dengan kemampuan bawah. Jika persentase yang diperoleh lebih besar kemampuan bawah daripada kemampuan atas, maka dapat diartikan perangkat pembelajaran lebih efektif pada kelompok kemampuan bawah. Demikian pula sebaliknya.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penerapan pada materi pokok Virus, rerata perolehan kognitif untuk siswa kemampuan atas adalah 81,43 dengan SD 3,61, sedangkan rerata kemampuan bawah 66,05 dengan SD 8,29. Hal ini menunjukkan sebaran perolehan kognitif pada siswa kemampuan atas lebih homogen daripada kemampuan bawah. Uji homogenitas tentang perolehan kognitif dengan menggunakan Levene’s Test diperoleh nilai F = 3,883 dengan taraf signifikansi 0,059 sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan varian dalam setiap kelompok, artinya nilai varian dalam setiap kelompok bersifat homogen.
Kemudian dilakukan penghitungan analisis data lebih lanjut, hasilnya adalah kemampuan siswa sangat berpengaruh terhadap perolehan kognitif. Perolehan kognitif pada siiswa kemampuan ataslebih tinggi dibanding dengan siswa kemampuan bawah. 
Hasil penelitian ini mendukung pernyataan Osborn (1999) yang menyatakan bahwa siswa kemampuan atas cenderung menggunakan lebih banyak strategi metakognitif daripada siswa kemampuan bawah. Pernyataan tersebut didukung oleh Lawson (1992) yang membuktikan ada hubungan yang signifikan antara tingkat berpikir formal dengan skor hasil ujian. Siswa yang memiliki tingkat berpikir formal, dalam hal ini kemampuan atas memperoleh skor hasil ujian yang lebih tinggi daripada siswa yang mempunyai tingkat berpikir konkrit, dalam hal ini siswa kemampuan bawah. 
Pernyataan Osborn (1999) dan Lawson (1992) tersebut dapat sebagai penjelasan terhadap fenomena penelitian ini, bahwa perolehan kognitif siswa kemampuan atas lebih tinggi daripada siswa kemampuan bawah.
Hasil perhitungan efektivitas perangkat pembelajaran dengan memperhatikan aspek kemampuan siswa adalah siswa dengan kemampuan atas 260,79 dan siswa dengan kemampuan bawah 261,71, Perangkat pembelajaran dengan strategi metakognitif pada Virus lebih efektif bagi siswa kemampuan bawah. Pada pembelajaran materi Virus membuktikan strategi metakognitif dapat mempersempit gap perolehan kognitif pada siswa kemampuan bawah. Dengan kata lain, Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,Fakultas MIPA, Universitas xxxxxx, 16 Mei 2009 B-329 strategi metakognitif dapat membantu siswa kemampuan bawah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Corebima (2007) bahwa strategi metakognitif dapat menguntungkan siswa kemampuan bawah.
Penelitian sebelumnya yang menguji metakognitif dalam pendidikan menyatakan bahwa pengajaran proses metakognitif dapat meningkatkan pembelajaran menuju kesempurnaan, yaitu pembelajar menjadi mengenal diri mereka sendiri sebagai insan yang dapat mengatur diri sendiri yang dapat mencapai tujuan secara sadar dan sengaja (Kluwe dalam Hacker, 2000). Pada halaman yang sama Paris & Winograd menyatakan secara umum teori metakognitif memfokuskan antara lain pada: peranan kesadaran berpikir seseorang, dan perbedaan individual pada pengenalan diri serta pengaturan pengembangan dan pembelajaran kognitif. Jadi strategi metakognitif dapat membantu siswa secara sadar mengenali proses berpikirnya dan dapat memberi sumbangan ke pengenalan diri siswa serta pemahaman menjadi insan yang dapat mengatur diri sendiri, akhirnya dapat menjadi agen pemikiran mereka sendiri sesuai dengan pemikiran pembelajaran sepanjang hayat.
Dalam penelitian ini, tahap-tahap strategi metakognitif yang diterapkan di kelas adalah: (1) menggali pengetahuan awal, (2) mengorganisasi siswa dalam kelompok kooperatif, (3) membandingkan pengetahuan awal siswa, (4) menjelaskan konsep-konsep penting, (5) membimbing diskusi kelas/mencek pemahaman, (6) siswa menilai sendiri hasil pemahamannnya (Susantini, dkk., 2007). Tahap-tahap tersebut menunjukkan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kecuali tahap menjelaskan konsep penting. Tahapan strategi metakognitif tersebut sejalan dengan teori belajar konstruktivis, guru tidak dapat begitu saja memberikan pengetahuan ke siswasiswanya. Agar pengetahuan yang diberikan kepadanya dapat bermakna, maka siswa sendirilah yang harus memproses informasi yang diterimanya, menstrukturkannya kembali dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki (Slavin, 2000)

SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan:
1. Terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kemampuan atas dan kemampuan bawah
     terhadap perolehan kognitif pada materi Virus dengan menerapkan strategi metakognitif.
2. Perangkat pembelajaran Virus lebih efektif pada siswa kemampuan bawah. Dari hasil penelitian,   
    dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Perangkat pembelajaran meskipun telah ditelaah oleh pakar sebaiknya tetap dilakukan
    ujicoba di kelas.
2. Sebaiknya perlu dipikirkan suatu cara lain untuk mengukur keterampilan metakognitif dan
    tidak dianjurkan menggunakan Metacognitive Awarenes Inventory untuk keperluan
    tersebut.
3. Buku Siswa Substansi Virus yang telah dikembangkan masih harus direvisi dengan
     memperhatikan saran perbaikan dari guru.
4. Option soal tes hasil belajar yang telah dikembangkan masih perlu diperhatikan
    homogenitasnya dan pemberian skor soal uraian perlu diperbaiki.
5. Agar diperoleh gambaran contoh nyata penerapan strategi metakognitif di kelas sebaiknya
    menyaksikan tayangan VCD pembelajaran “Strategi Metakognitif dalam Pembelajaran
    Biologi”.


DAFTAR PUSTAKA
Arends, R.I. 2004. Learning to Teach. Six Edition. New York: McGraw Hill Companies.
Cavallo. A.M.L. 1996. Meaningful Learning, Reasoning Ability, and Students’s Understanding
andProblem Solving of Topics in Genetics. Journal of Research in Science Teaching.
33 (6): 625 -656
Sifak Indiana/ Efektivitas Perangkat Pembelajaran…
B-330
Corebima, A.D. 2005. Pemberdayaan Berpikir Siswa pada Pembelajaran Biologi: Satu
Penggalakkan Penelitian Payung di Jurusan Biologi UM. Makalah Disajikan dalam
Seminar Nasional Biologi dan Pembelajarannya. FMIPA UM. Malang: 3 Desember
2005.
Corebima, A.D. 2007. Metakognisi: Suatu Ringkasan Kajian. Makalah Disajikan dalam Diklat
Guru Matapelajaran Biologi di Yogyakarta
Esiobu, G.O., & Soyibo, K. 1995. Effects of Concept and Vee Mappings under Three Learning
Mode on Student’ Cognitive Achivement in Ecology and Genetics. Journal of
Research in Science Teaching. 32 (9): 971 -994.
Fraenkel, J.R. & Wallen, N.E. 1993. How to Design and Evaluate Research in Education.New
York: McGraw-Hill Inc.
Hacker, D.J. 2000. Metacognition: Definitions and Emperical Foundations, (Online),
(http://www.psyc.memphis.edu/trg/meta.htm, diakses 21 Nopember 2000).
Lawson, A.E. 1992. The Development of Reasoning Among College Biology Students – A Review
of Research Journal of College Science Teaching. XXI (6): 338-344.
Malacinski, G.M. & Zell, P.W. 1996. Manipulating the “Invisible” Learning Molecular Biology
Using Inexpensive Models. American Biology Teacher. 58 (7): 428 – 432.
Marzano, R.J. 1988. Dimensions of Thinking: A Framework for Curriculum and Instruction.
Alexandria, Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development
Nasution, S. 1988. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bina
Aksara.
Osborne, J.W. 1999. Metacognition and Teaching for Learning, (Online), (http://facultystaff.
Ou.edu/O/JasonW.Osborne-1/Metahome.html, diakses 21 Nopember 2000)
Royanto, L. 2006. Waspadai Kesulitan Belajar pada Anak. Kompas (12 Februari 2006).
Slavin, R. 2000. Educational Psychology Theory and Practice. Boston: Allyn Bacon.
Susantini, E. 2004. Memperbaiki Kualitas Proses Belajar Genetika melalui Strategi Metakognitif
dalam Pembelajaran Kooperatif pada Siswa SMU. Disertasi. Tidak diterbitkan.
Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.
Susantini, E. 2005. Strategi Metakognitif dalam Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan
Kualitas Pembelajaran Genetika di SMA. Jurnal Ilmu Pendidikan. Februari 2005, Jilid
12, (1): 62-75.
Susantini, E. dkk., 2007. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi Dengan Strategi
Metakognitif untuk Memberdayakan Kecakapan Berpikir Siswa SMA. Laporan
Penelitian Hibah Bersaing. Universitas Negeri Surabaya.
Tim Broad Based Education. 2002. Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) melalui
Pendekatan Pendidikan Berbasis Luas Broad Based Education (BBE). Jakarta:
Depdiknas
Usman, U.M. 1996. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Gramedia.
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2009 B-331
Wilcoxson, C., Romanek, D., & Wivagg, D. 1999. Setting The Stage for Understanding DNA. The
American Biology Teacher. 61 (9): 680 -683.
Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Gramedia.


Friday, August 28, 2015

PERSEPSI GURU KELAS TERHADAP PELAKSANAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR PENJASKES DI SEKOLAH DASAR NEGERI 1 xxxxx”


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan ditinjau dari segi filosofis adalah proses memanusiakan manusia melalui pembelajaran dalam bentuk aktualisasi potensi peserta didik menjadi suatu kemampuan atau kompetensi (Soederajat, 2004:11). Kompetensi yang dapat mereka miliki yaitu kompetensi akademik  sebagai aktualisasi potensi intelek (IQ), dan kompetensi motorik yang dikembangkan dari potensi inderawi atau fisik.
Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia yang berkualitas yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh dan bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil serta sehat jasmani dan rohani (Sahertian, 1992 : 1).
Pendidikan dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara terencana, sistematis, dan berkesinambungan dalam membina dan membimbing berbagai potensi yang ada pada peserta didik, agar berfungsi secara optimal bagi perannya di masa yang akan datang. Pendidikan menjadi kebutuhan yang amat penting dan strategis dalam mengatasi tantangan era globalisasi. Hal ini disebabkan karena pendidikan terkait langsung dengan pembinaan sumber daya manusia, yang selalu mengalami perubahan.
 Dinamika pertumbuhan dan perkembangan penduduk serta kemajuan IPTEK, dan lembaga pendidikan dewasa ini semakin ditantang. Namun, kebanyakan lembaga pendidikan yang ada sekarang ini kurang memperhatikan mutu pendidikan dan kualitas lulusan yang dihasilkannya. Lembaga pendidikan cenderung hanya memikirkan bagaimana suatu lembaga pendidikan tersebut dapat menjaring siswa di lembaganya sebanyak mungkin, baik pendidikan formal maupun non formal. Dengan mendeskripsikan bermacam-macam bentuk fasilitas yang tersedia sehingga menarik banyak peminat. Jika hal semacam ini terus berjalan akan berpengaruh terhadap usaha peningkatan sumber daya manusia, khususnya di Indonesia. Sehingga dikhawatirkan bangsa dan negara ini akan semakin terpuruk, karena memiliki sumber daya manusia yang berkualitas rendah, walaupun Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah.
Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (Penjasorkes) merupakan salah satu bidang studi yang secara umum dapat menunjang mata pelajaran yang lain. Bidang studi pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dapat menjadikan proses pendidikan di sekolah menjadi lengkap, utuh dan mengantarkan siswa mengalami pertumbuhan dalam dirinya.
Pendidikan yang integral secara menyeluruh merupakan bagian dari kegiatan olahraga anak didik dalam lingkungan sekolah. Pendidikan penjasorkes bertujuan untuk mempersiapkan siswa menuju kesehatan jasmani, rohani dan mental. Hal ini disebabkan karena dalam materi penjaskes terdapat nilai kreativitas, disiplin, pengembangan jasmani, rohani, mental, emosional, sosial, moral dan seni.
Dalam meningkatkan mutu pendidikan penjaskes di Indonesia, pemerintah menerapkan kurikulum penjasorkes di Sekolah Dasar menyatakan bahwa melalui program penjasorkes yang teratur dan terencana, terarah dan berimbang hendaknya dapat meningkatkan daya kualitas peserta didik. Adapun  tujuannya  yang meliputi pembentukan dan pembinaan bagi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani. Penjasorkes di sekolah merupakan salah satu bidang studi yang harus diikuti oleh semua siswa.
Bidang studi ini dapat mengembangkan aspek-aspek potensi yang lebih luas bila dibandingkan dengan bidang studi yang lainnya. Penjaskes tidak hanya dapat mengembangan kemampuan dan keterampilan motorik peserta didik saja, tetapi dapat juga mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan bersikap mental terhadap perkembangan peserta didik.
Menurut Surat Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 413/U/U 1987 Tanggal 14 Juli 1987 menyatakan; Perubahan kurikulum yang dulu bernama mata pelajaran olahraga dan kesehatan (Orkes) berganti menjadi penjaskes. Perubahan atau pergantian kurikulum  hanya terjadi dipermukaan saja, sedangkan kualitas pembelajaran masih berbentuk seperti kurikulum yang lama, hal ini dapat dilihat pada sebagian guru penjaskes yang masih terpaku pada pola pembelajaran yang lama.
Pelaksanaan pembelajaran olahraga di Sekolah Dasar negeri gugus I Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung, belum terlaksana dengan maksimal, karna sarana dan prasarana belum memadai sesuai dengan Kenyataan yang ditemukan dilapangan, Dengan demikian tujuan penjasorkes tidak pernah tercapai dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Jumlah siswa di tingkat pendidikan tidak seimbang dengan alat olahraga yang ada. Akibatnya pelaksanaan olahraga di lapangan terkesan sekedar melakukan kewajiban saja pada waktu pembelajaran, yang penting guru sudah mengajarkan materi ajarnya dan umpan balik dari siswa jarang terevaluasi oleh guru. Dampak dari semua pelaksanaan itu, terlihat dimana materi teori yang diberikan diruang kelas tidak tampak aplikasinya di lapangan dan siswa sering menunjukan sikap kurang aktif dan kreaktif disaat praktek olahraga di lapangan.
Pembelajaran penjasorkes dilaksanakan dalam dua kegiatan yaitu pelajaran yang bersifat praktek dan bersifat teori, dilakukan dalam satu waktu yang bersamaan. Materi kurikulum yang bersifat praktek diklasifikasikan terdiri dari berbagai cabang olahraga, seperti; permainan olahraga, aktivitas pengembangan, aktifitas ritmik, senam, pendidikan luar kelas dan pendidikan kesehatan. Apabila dilihat dari distribusi waktunya hanya satu kali dalam satu minggu dengan lama 2 x 35 menit, hal ini memperkecil kemungkinan tercapainya tujuan yang berhubungan dengan kesegaran jasmani.
Adanya asumsi di Sekolah Dasar menyatakan bahwa guru penjasorkes jarang membuat RPP dan silabus yang baru, guru hanya menyalin silabus dan RPP dari tahun ke tahun sebelumnya, karena apa yang akan diajarkan sudah ada didalam konsep pemikiran guru tersebut tanpa memikirkan kurikulum yang telah ditetapkan.
Tugas seorang guru wajib memahami bahwa silabus dan RPP merupakan penjabaran tentang isi kurikulum yang akan di ajarkan kepada siswa. Jika guru penjasorkes tidak menyesuaikan dengan kebutuhan siswa dari tahun ke tahun dalam membuat silabus dan RPP, maka kualitas pelaksanaan pembelajaran tidak akan sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Selain dari pada itu guru penjasorkes kurang mendapat kesempatan di dalam menambah wawasan dan keilmuwan dibidangnya, baik melalui seminar dan penataran penjasorkes sehingga pada waktu pelaksanaan pembelajaran penjasorkes di sekolah kemampuan mereka kurang berkembang.
Penjasorkes merupakan suatu sistem pendidikan individu dalam proses yang sistemik dan sistematik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas baik secara kognitif, afektif dan motorik. Dalam pendidikan tersebut  hasil yang akan dimiliki oleh setiap individu siswa akan terkait erat dengan input, proses dan output, input merupakan masukan dalam hal ini adalah siswa.
Setiap siswa tidaklah sama, dengan arti kata siswa merupakan individu-individu yang memiliki karakteristik dan ciri-ciri yang berbeda. Dalam konsep pendidikan disini, input dapat dikatakan sebagai bahan materi yang lain perlu di olah atau diproses. Proses dalam penjaskes merupakan suatu sistem pengolahan atau tempat untuk mengolah siswa sehingga siswa dapat memiliki pengetahuan, kesegaran jasmani, keterampilan dan sikap. Dalam proses ini ada unsur-unsur penting yang selalu menjdi bagian dalam setiap proses pembelajaran penjaskes diantaranya;  tujuan, materi, metode, kurikulum, sarana dan prasarana. Sedangkan output merupakan keluaran atau hasil akhir yang dimiliki oleh setiap siswa setelah proses pembelajaran penjasorkes dilaksanakan.
Menurut penulis apabila tanggung jawab dan disiplin kerja guru tidak terlaksana dalam kegiatan proses belajar mengajar tentu tidak akan tercipta suasana pendidikan yang lebih baik. Tidak semudah yang dibayangkan bahwa guru yang sudah mempelajari teori-teori mengajar akan mampu mengajar dengan baik. Namun lebih dari itu seorang guru harus betul-betul profesional dan mampu menempatkan materi pelajaran, menggunakan media, metode dan pengelolaan siswa serta memberikan evaluasi dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang diberikan oleh guru dan akan lebih buruk lagi apabila seorang guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keilmuannya karena akan berpengaruh besar terhadap siswa dalam proses belajar megajar.
Untuk menjawab tantangan ini diperlukan personil sekolah yang saling bekerjasama terutama guru-guru dengan kepala sekolah. Seorang guru harus memiliki kemampuan dalam mendidik sehingga guru proaktif dalam pendidikan tersebut.
Mengingat pentingnya seorang guru yang professional yaitu, guru mengajarkan bidang studi yang sesuai dengan bidang keilmuannya dan penuh tanggung jawab dalam proses belajar mengajar, dalam usaha menumbuhkan insan-insan yang berkualitas,  maka sangat menarik untuk dicermati dalam sebuah lembaga pendidikan bagaimana keprofesionalan seorang guru dalam proses pembelajaran terutama pada guru penjaskes. sehingga proses belajar mengajar dapat mencapai tujuannya secara berhasil guna dan berdaya guna.
Untuk meningkatkan kemampuan dan kualitasnya dalam mengajar, seorang guru membutuhkan bimbingan dan pembinaan, karena pada kenyataannya banyak kesulitan yang dialaminya. Dalam kondisi yang demikian bantuan dan masukkan dari seoarang figur sangat dibutuhkan untuk menunjang potensi yang lebih baik.
Berdasarkan fenomena di atas, merupakan indikasi bahwa pelaksanaan proses belajar mengajar penjaskes oleh guru penjasorkes belum terlaksana dengan maksimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti, 1) tanggung jawab guru penjasorkes dalam proses belajar mengajar dan disiplin kerja. 2) kemampuan guru merencanakan program pembelajaran, 3) metode mengajar yang digunakan guru, 4) sarana dan prasarana, 5) kemampuan guru dalam memodofikasi materi, 6) motifasi belajar siswa, 7) media yang digunakan guru, 8) persepsi guru kelas, 9) kemampuan guru merencanakan pembelajaran, 10) kemampuan guru melaksanakan pembelajaran, 11) kemampuan guru mengevaluasi pembelajaran. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Persepsi Guru Kelas Terhadap Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Penjaskes Di Sekolah Dasar Negeri 1xxxx”  Yang Akan Dijadikan Judul Skripsi.
A. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukan diatas, kurang terlaksananya pembelajaran pendidikan jasmani di Sekolah Dasar Negeri Gugus 1 Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah :
1. Tanggung jawab guru penjaskes dalam proses belajar mengajar dan disiplin kerja.
2. Kemampuan guru merencanakan program pembelajaran.
3. Metode mengajar yang digunakan guru.
4. Sarana dan prasarana
5. Kemampuan guru dalam memodifikasi materi.
6. Motifasi belajar siswa.
7. Media pengajaran yang digunakan guru.
8. Bagaimana persepsi guru kelas.
9. Kemampuan guru merencanakan pembelajaran
10. Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran
11. Kemampuan guru mengevaluasi pembelajaran
C.  Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan yang tercakup dalam penelitian ini, maka penulis merasa perlu untuk membatasinya agar penelitian ini dapat dilaksanakan sesuai dengan jangkauan pengetahuan penelitian, waktu, biaya serta sasaran yang diinginkan. Oleh karena itu penelitian ini dibatasi hanya melihat masalah
1. Kemampuan guru merencanakan pembelajaran
2. Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran
3. Kemampuan guru mengevaluasi pembelajaran
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kemampuan guru merencanakan pembelajaran penjasorkes disekolah dasar negeri gugus I kecamatan IV nagari kabupaten sijunjung ?
2. Bagaimana kemampuan guru melaksanakan pembelajaran  penjasorkes disekolah dasar negeri gugus I kecamatan IV nagari kabupaten sijunjung ?
3. Bagaimana kemampuan guru mengevaluasi pembelajaran penjasorkes disekolah dasar negeri gugus I kecamatan IV nagari kabupaten sijunjung ?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
1. Persepsi guru kelas terhadap kemampuan guru merencanakan pembelajaran penjasorkes disekolah dasar negeri gugus I kecamatan IV nagari kabupaten sijunjung.
2. Persepsi guru kelas terhadap kemampuan guru melaksanakan pembelajaran penjasorkes disekolah dasar negeri gugus I kecamatan IV nagari kabupaten sijunjung.
3. Persepsi guru kelas terhadap kemampuan guru mengevaluasi pembelajaran penjasorkes disekolah dasar negeri gugus I kecamatan IV nagari kabupaten sijunjung.
F. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk memenuhi salah satu syarat bagi peneliti dalam memperoleh gelar sarjana ( S I ) Pendidikan di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang.
2. Bagi guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan khususnya disekolah Dasar Negeri Gugus I Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung sebagai tenaga terampil yang menyentuh peserta didik pertama kali.
3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan rekruitmen pembelajaran penjaskes dan penyempurnaan struktur untuk meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar.
4. Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Pada.
5. Untuk sipeneliti
6. Untuk dinas yang terkait



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Hakikat Persepsi
a. Pengertian Persepsi
Persepsi berasal dari bahasa inggris yaitu “perseption “yang diartikan oleh hasan Shadily (1982 : 424 ) sebagai tanggapan atau daya memahami, menanggapi sesuatu “. Menurut W. J. S. Poerdarminto (1985), mendefenisikan persepsi adalah opini , tanggapan, anggapan terhadap sesuatu pertistiwa atau kejadian.
        Persepsi merupakan salah satu faktor kejiwaan yang cukup besar sumbanganya dalam menilai suatu objek. Persepsi seseorang terhadap suatu objek atau peristiwa tidak akan sama, meskipun berhadapan dengan atau objek peristiwa yang sama.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi persepsi
Persepsi dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga persepsi seseorang tidak bisa disamakan dengan persepsi orang lain. Menurut Rahkmad (2000:72) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah : (1)  (2) Belajar (3) Mengajar
Perhatian terjadi apabila seseorang mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indranya dan mengesampingkan masukan-masukan melalui alat indra yang lain. Apa yang diperhatikan seseorang ditentukan oleh faktor-faktor personal yaitu kebutuhan, pengalaman masa lalu dan lainnya dan faktor-faktor fungsional yang nantinya akan membentuk sebuah persepsi.
Selanjutnya faktor struktural yang membentuk persepsi ditentukan oleh sifat-sifat struktural secara keseluruhan. Jika individu  dianggap sebagai anggota keluarga, semua sifat individu  yang berkaitan dengan sifat keluarga akan dipengaruhi oleh anggota keluarganya dengan aspek yang berupa asimilasi.
2. Konsep Dasar Pembelajaran
a. Pengertian Pembelajaran
Secara etimologi, pembelajaran adalah kata benda (noun) dari kata kerja (verb) belajar, yang berarti proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Selanjutnya, secara terminologi, pembelajaran adalah hal membelajarkan, artinya mengacu ke segala daya upaya bagaimana membuat seseorang belajar, bagaimana menghasilkan terjadinya peristiwa belajar di dalam diri orang tersebut, istilah pembelajaran ini diperkenalkan sebagai ganti istilah pengajaran.
Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksinya tersebut banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam diri individu, maupun faktor yang datang dari lingkungan. Dengan demikian pembelajaran merupakan hasil dari upaya-upaya yang dilakukan supaya seseorang mau dan mampu belajar. Hasil yang diharapkan dengan pembelajaran itu adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik atau lebih sempurna.
Pembelajaran yang berhubungan dengan proses tersebut tidak bisa dipisahkan dari adanya elemen-elemen (komponen), seperti guru, murid, materi, dan metode pembelajaran. Guru sebagai pelaksana pembelajaran, murid sebagai peserta pembelajaran, materi adalah bahan yang akan diajarkan, sedangkan metode adalah cara atau strategi yang diterapkan supaya pembelajaran mencapai sasaran yang diharapkan. Masing-masing komponen-komponen itu sama penting dan sama-sama berperan untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.
Jadi sistem pembelajaran merupakan sinergisitas antara komponen-komponen pembelajaran, dimana antara satu komponen dengan komponen lainnya saling mempunyai ketergantungan. Satu sistem pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik dan sempurna manakala salah satu dari komponen tersebut diabaikan.
Pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Peristiwa belajar mengajar berakar pada pandangan dan konsep. Usman Moh Uzer mengatakan, proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang belangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Nana Sudjana juga menyatakan bahwa: pembelajaran atau proses belajar mengajar adalah interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.
Jadi pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
3. Batas-batas Proses Pembelajaran
Pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru untuk memulai dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur-unsur perencanaan, agar ujuan-ujuan tersebut dapat dicapai, kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru merupakan bagian penting yang dapat mempengaruhi hasil pendidikan sekolah. Oleh karna itu kegiatan pembelajaran perlu dilaksanakan secara maksimal agar tujuan dari pembelajaran itu dapat dicapai.
Dalam proses pembelajaran terdapat komponen-komponen yang dikelompok dalam tiga kategori utama yaitu: guru, isi, atau materi pembelajaran siswa, interalisasi dari ketiga ini melibatkan faktor-faktor yaitu, sarana dan prasarana, metode, media, alokasi waktu dan lingkungan belajar sehingga terciptanya suasana pembelajaran yang efektif dan kondusif. Sehingga memungkinkan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian  guru Penjaskes yang memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menjalankan proses pembelajaran mampu menjalankan  tiga tugas utamanya, yaitu
a. Kemampuan Guru Merencanakan Pembelajaran
1. program bulanan
2. program tahunan
3. program semester
4. silabus
5. rpp
b) Kemampuan Guru Melaksanakan Pembelajaran
1. pembuka dan menutup pelajaran
2. penggunaan metoda
3. penggunaan media
c) Kemampuan Guru Mengevaluasi Pembelajaran.
   1.  kognitif
   2.  afektif
   3.  motorik
B. Kerangka Konseptual
Pendidikan jasmani dan kesehatan merupakan kegiatan siswa untuk meningkatkan keterampilan motorik dan nilai-nilai fungsional yang mencakup kognitif, afektif dan sosial, sehinmgga siswa dapat berkembang sesuai dengan karakteristiknya masing-masing.
Secara sistematis dengan pelaksanaan proses belajar mengajar penjaskes ada tiga hal yang selalu menjadi bagian dari proses belajar mengajar, yaitu sebagai berikut
1. Kemampuan guru merencanakan pembelajaran
2. Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran
3. Kemampuan guru mengevaluasi pembelajaran
Proses pembelajaran yang dilaksankan oleh guru beserta siswa akan menarik dan apabila guru dapat menyampaikan bahan pelajaran sesuai dengan tujan yang dicapai dan siswa  pun dapat menguasainya. Semua ini tentu tidak terlepas dari cara guru dalam mempersiapkan rancangan pengajaran itu agar tersusun dengan baik, serta pelaksanaan pembelajaran yang efektif, efisien serta melaksanakan evaluasi dengan baik dan benar selama dalam pelaksanaan pembelajaran, yang disesuaikan dengan kurikulum serta penggunaan metode dan media pembelajaran yang tepat yang disesuaikan dengan materi atau bahan pelajaran.
Selain dari uraian di atas yang lebih penting perlu diperhatikan oleh guru yaitu dapat menghidupkan suasana dalam pembelajaran penjaskes agar menjadi menyenangkan dan terciptanya interaksi yang baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa selama pelajaran itu berlangsung dengan memperhatikan siswa dan karakterisik individu masing-masing dalam menyesuaikan bahan pelajaran dengan pengalaman masalalu.
Apa bila guru sudah memperhatikan dan melakukannya dengan baik dan benar diharapan tujuan pembelajaran akan tercapai lebih optimal. Untuk lebih jelasnya tentang kerangka pemikiran dapat dilihat dari gambar berikut ini :
Gambar 1
Kerangka Konseptual




C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan kajian teori dalam kerangka konseptual diatas, maka dapat diajukan pertayaan peneliti yaitu :
1. Bagaimana kemampuan guru merencanakan pembelajaran penjasorkes xxxxxxxxxxxxxxxxxx?
2. Bagaimana kemampuan guru melaksanakan pembelajaran penjasorkes xxxxxxxxxxxxxxxxxx?
3. Bagaimana kemampuan guru mengevaluasi pembelajaran penjasorkes xxxxxxxxxxxxxxxxxxx?


DAFTAR PUSTAKA
Ary, Donald, dkk., dalam John W. Best, Research In Education, Englewood Clifts, N.J: Prentice-Hall, (1970)
Arikunto, Suharsimi (1990). Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi (2002). Prosedur Penelitian  (Edisi Revisi V). Jakarta : Rineka Cipta
Hamalik, Oemar, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta : Bumi Aksara, (2003)
Sahertian, Piet A. dkk, Supervisi Pendidikan dalam Rangka Program Insevice Education, Jakarta : PT. Rineka Cipta, tth
Suderajat, Hari, Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung : CV. Cipta Reka Grafika, (2004)
Sudjana, Nana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru Algesindo, (2003)
Depdiknas. UU. RI  (2005) Sistem Keolahragaan Nasional. jakarta
Ali (1983) . Pengembangan Kurikulum Disekolah . Bandung : Sinar Baru Algasindo
Rakhmad. (2000). Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi). Bandung
W.J.S Poedarminto. (1985) Kamus Besar Berbahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Depdikbud. (1999). Suplemen Garis-garis Besar Program Pengajaran Pendidikan Jasmani. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Dan Menengah
Depdiknas.UU.No 20 (2003) Tentang Sistem Pendidkan Nasional. Jakarta : Dikjen Pendidikan Dasar Dan Menengah
Hasan Shadily. (1982) Pengertian Tentang Persepsi
Suharsimi Arikuunto (1989). Manajemen Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Aneka Cipta Madarmaju
Lampiran. I
Angket Penelitian Tentang Kemampuan Guru  Dalam Merencanakan Pembelajaran  Penjasorkes di Sekolah Dasar Negeri Gugus 1 Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung.









Thursday, August 27, 2015

PERANAN GURU SEBAGAI MOTIVATOR DALAM MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PAI (STUDI KASUS DI SMP NEGERI 1 XXXXXXXXXXXXXXXXX


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 
Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan usaha mencerdasakan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia  Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur. Hal ini sejalan dengan rumusan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3 yang menyebutkan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, diperlukan peningkatan dan penyempurnaan mutu pendidikan yang dalam hal ini berkaitan erat dengan peningkatan kualitas proses belajar mengajar. Sedangkan komponen peningkatan kualitas pendidikan meliputi: siswa, guru, kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan sekolah, proses belajar mengajar, pengelolaan dana, supervisi dan monitoring, serta hubungan sekolah dengan lingkungan. Mutu pendidikan tersebut selanjutnya dapat dikenali melalui tanda-tanda operasional berupa: (1) keluaran/lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat; (2) nilai akhir prestasi belajar peserta didik; (3) persentase lulusan yang dicapai sekolah; dan (4) penampilan kemampuan dalam semua komponen pendidikan.
Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas / mutu proses belajar mengajar di kelas adalah kemampuan guru dalam mengajar. Sedangkan keberhasilan guru dalam mengajar tidak hanya ditentukan oleh hal-hal yang berhubungan langsung dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Seperti perumusan tujuan pengajaran dalam pembuatan rencana pembelajaran, pemilihan materi pelajaran yang sesuai, penguasaan materi pelajaran yang sesuai, pemilihan metode yang tepat serta lengkapnya sumber-sumber belajar dan yang memiliki kompetisi yang memadai untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
Keberhasilan pengajaran dalam arti tercapainya tujuan-tujuan pengajaran, sangat tergantung kepada kemampuan kelas. Kelas yang dapat menciptakan situasi untuk memungkinkan anak didik dapat belajar dengan baik dengan suasana yang wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran maka diperlukan motivator yang baik.
Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, setiap guru akan menghadapi berbagai masalah yakni masalah yang dapat dikelompokkan atas masalah pembelajaran dan masalah peranan guru sebagai motivator, misalnya tujuan pembelajaran tidak jelas, media pembelajaran tidak sesuai. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan sosok guru yang profesional, dimana guru yang profesional adalah guru yang tidak hanya menguasai prosedur dan metode pengajaran, namun juga sebagai motivator yang kondusif. Dalam motivasi yang kondusif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.
Meningkatkan kualitas pembelajaran dalam pendidikan merupakan salah satu upaya yang sedang diprioritaskan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pada proses kegiatan pembelajaran dimasa lalu banyak yang berjalan secara searah. Dalam hal ini fungsi dan peranan guru menjadi amat dominan, guru sangat aktif tetapi sebaliknya siswa menjadi sangat pasif dan tidak kreatif dan kadang siswa juga dianggap sebagai obyek bukan sebagai subyek. Sehingga siswa kurang dapat dikembangkan potensinya.
Pada dasarnya guru sebagai pengajar tidak mendominasi kegiatan, tetapi membantu menciptakan kondisi yang kondusif serta memberikan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan potensi dan kreatifitasnya, melalui kegiatan belajar. Diharapkan potensi siswa dapat berkembang menjadi komponen penalaran yang bermoral, manusia-manusia aktif dan kreatif yang beriman dan bertaqwa.
Guru merupakan tenaga professional yang memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual dan harus mengetahui hal-hal yang bersifat teknis terutama hal-hal yang berupa kegiatan mengelola dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar (pembelajaran). Dalam pendidikan guru dikenal adanya pendidikan guru berdasarkan kompetensi dengan sepuluh kompetensi guru yang merupakan profil kemampuan dasar bagi seorang guru yaitu yang meliputi: menguasai bahan, mengelola program belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media/sumber, menguasai landasan pendidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah serta memahami prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.  
Hal tersebut dianggap penting karena untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang tinggi maka harus melalui motivasi yang baik. Pada saat pengelolaan proses belajar mengajar disadari atau tidak disadari setiap guru menggunakan pendekatan dan menerapkan teknik-teknik motivator. Strategi yang biasa digunakan antara lain: memberikan nasihat, teguran, larangan, ancaman, teladan, hukuman, perintah dan hadiah. Selain itu ada guru yang memotivasi siswa dengan cara yang ketat yakni mengandalkan sikap otoriter tanpa memperhatikan kondisi emosional siswa dan ada pula yang membiarkan siswa secara penuh berbuat sesuka hati.
Lokasi yang dijadikan sasaran dalam penelitian ini adalah SMP Negeri I Kauman Tulungagung. Sekolah ini merupakan salah satu rintisan Sekolah Standard Nasional (SSN) di Tulungagung. Sehingga menarik minat saya untuk mengadakan penelitian di lembaga ini. Selain itu, di SMP Negeri I Kauman Tulungagung setiap tahunnya mampu mengantarkan siswanya lulus dengan nilai yang memuaskan.
Sehubungan dengan penjelasan di atas, bahwa peran guru sebagai motivator sangat penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Terwujudnya tujuan pendidikan tergantung pada motivasi yang dilakukan oleh guru. Maka peneliti mengambil judul "Peranan Guru sebagai Motivator dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran PAI (Studi Kasus di SMP Negeri 1 xxxxxxxxxxxxxxxxxxx)"
  
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana peranan guru sebagai motivator dalam meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri I Kauman Tulungagung?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan guru Pendidikan Agama Islam dalam memotivasi siswa di SMP Negeri I Kauman Tulungagung?
3. Bagaimanakah dampak peranan guru Pendidikan Agama Islam tersebut terhadap perilaku belajar agama di SMP Negeri I Kauman Tulungagung?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana peranan guru sebagai motivator dalam meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PAI di SMP Negeri I Kauman Tulungagung.
2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan guru Pendidikan Agama Islam dalam memotivasi siswa di SMP Negeri I Kauman Tulungagung.
3. Untuk mengetahui dampak peranan pendidikan agama Islam tersebut terhadap perilaku belajar agama pada siswa di SMP Negeri I Kauman Tulungagung. 

D. Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah disebutkan, maka dalam penelitian ini diharapkan berguna bagi lembaga (baik almamater maupun obyek penelitian), bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan bagi penulis.
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan fikiran dan menambah pengetahuan dalam melakukan inovasi pendidikan dan membantu potensi guru dalam mengajar pada umumnya dan peranan guru sebagai motivator pada khususnya.
2. Secara Praktis
a. Bagi Kepala Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan menentukan langkah untuk meningkatkan kinerja guru dalam memotivasi belajar siswa sehingga terjadi pembelajaran yang makin intensif dan perolehan belajar yang makin berkualitas secara intelektual, emosional, dan spiritual.
b. Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan penambah informasi untuk menentukan sikap yang lebih tepat untuk menentukan kiat yang jitu dalam memotivasi belajar siswa yang sesuai dengan perubahan kondisi psikis dan sosiologis siswa.
c. Bagi Orang Tua
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan dalam menentukan sikap dan langkah partisipatif memperkokoh motivasi belajar siswa.
d. Bagi Peneliti yang Akan Datang
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai penambah informasi untuk menyusun rancangan penelitian lanjutan dengan menerapkan pendekatan metode dan strategi yang variatif.

E. Penegasan Istilah 
Untuk menghindari kesalahpahaman di kalangan pembaca, serta untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang konsep yang dibahas, berikut ini akan penulis jelaskan istilah yang digunakan dalam judul skripsi ini :
1. Secara Konseptual
a. Peranan
Peranan dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai sesuatu yang jadi bagian atau yang memegang pimpinan yang utama. 
b. Guru
Guru dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai orang dewasa yang menjadi tenaga kependidikan untuk membimbing dan mendidik peserta didik menuju kedewasaan. 
c. Motivator
Motivator dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai dorongan dan semangat agar siswa mau giat belajar. 
d. Pembelajaran
Pembelajaran dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap. 
e. PAI
Pendidikan Agama Islam dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai usaha untuk membimbing ke arah pertumbuhan kepribadian peserta didik secara sistematis dan paragmatis supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam, sehingga terjalin kebahagiaan dunia dan akhirat. 

2. Secara Operasional
Peranan guru sebagai motivator dalam meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PAI adalah segala bentuk kegiatan dalam usaha meningkatkan motivasi belajar siswa, baik itu ketika proses belajar mengajar di kelas sedang berlangsung maupun melalui bimbingan-bimbingan dan latihan-latihan yang diadakan di luar kelas.

F. Sistematika Pembahasan
Pembuatan skripsi ini dikemukakan dengan sistem pembahasan. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pembaca dalam memahami gambaran secara global dari seluruh skripsi ini. Adapun sistematika pembahasan ini ada lima bab dan tiap bab terdiri dari beberapa sub yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan berhubungan.

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan sekitar masalah yang dibahas dalam penulisan ini yang bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap masalah-masalah yang dibahas dan fungsi sebagai landasan dalam melaksanakan penelitian lapangan. Permasalahan meliputi latar belakang, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan penegasan istilah.

BAB II KAJIAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan secara rinci tentang peranan guru sebagai motivator dalam meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PAI di SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung. 

BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang bagaimana cara peneliti memperoleh hasil penelitian yang bertujuan mempermudah dalam penelitian di lapangan. Bab ini meliputi pola/jenis penelitian, lokasi penelitian, kehadiran peneliti, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, teknik pengecekan keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.

BAB IV PAPARAN HASIL PENELITIAN  
Bab ini menjelaskan tentang paparan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti di lapangan, bab ini meliputi latar belakang obyek penelitian meliputi sejarah singkat berdirinya SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung, letak geografis, visi dan misi, struktur organisasi SMP Negeri 1 Kauman Tulungagung, keadaan guru, keadaan siswa, sarana dan prasarana.

BAB V PENUTUP
Bab ini menjelaskan secara global dari semua pembahasan skripsi dengan menyimpulkan semua pembahasan dan memberi beberapa saran dalam meningkatkan kualitas pembelajaran selanjutnya. Tujuannya mempermudah pembaca untuk mengambil inti sari dari pembahasan skripsi ini. 


Wednesday, August 26, 2015

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT (TEAMS GAMES TURNAMENT) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan kehidupan masyarakat dalam suatu negara sangat dipengaruhi oleh kemajuan dalam dunia pendidikan. Secara formal, dunia pendidikan meliputi pendidikan di tingkat perguruan tinggi, SMA, SMP, dan SD. Untuk menciptakan suatu masyarakat yang maju maka harus dilakukan usaha-usaha yang dapat meningkatkan mutu pendidikan di semua jenjang pendidikan tersebut. Mutu pendidikan dikatakan baik jika proses belajar mengajar di semua jenjang tersebut benar-benar efektif dan efisien sehingga siswa dapat mencapai kemampuan intelektual, sikap, dan ketrampilan yang
diharapkan.Mutu pendidikan dipengaruhi oleh beberapa hal terutama ketersediaanfasilitas belajar, pemanfaatan waktu, dan penggunaan metode belajar. Padapelaksanaan pembelajaran di kelas guru harus mampu memilih metodepembelajaran yang tepat karena cara guru dalam menyampaikan materi
pelajaran sangat mempengaruhi kelancaran proses pembelajaran dan minat siswa terhadap materi pelajaran yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Bahar menyatakan bahwa guru berkewajiban untuk mencapai kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif bagi siswa agar mencapai hasil pembelajaran yang optimal.2
Dari hasil wawancara dengan guru matematika MI Ar-Rahmah Bendo
Jabung Malang diketahui bahwa prestasi belajar matematika siswa di sekolah
tersebut rendah. Rendahnya prestasi belajar matematika di kelas tersebut
diduga karena guru secara aktif menjelaskan materi, memberi contoh, dan
latihan sedangkan siswa hanya mendengar, mencatat, dan mengerjakan
latihan. Pembelajaran seperti itu kurang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan, membentuk, dan mengembangkan pengetahuannya
sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tersebut kurang mampu
menumbuhkan motivasi belajar dalam diri siswa. Selain itu, kecil sekali
peluang terjadinya proses sosial antar siswa yaitu hubungan siswa satu
dengan siswa lainnya dalam rangka membangun pengetahuan bersama.
Konstruktivisme merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang
lahir dari gagasan Jean Peaget. Dalam pandangan konstruktivisme,
pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Menurut
Suherman dkk. didalam kelas konstruktivisme, pengetahuan yang berada
dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi dan penyelesaian, debat antara
yang satu dengan yang lainnya, dan berpikir secara kritis tentang cara terbaik
untuk menyelesaikan setiap masalah.
Salah satu model pembelajaran yang berpijak pada pandangan
konstruktivis adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada para siswa melaksanakan
kegiatan belajar bersama dengan kelompok kecil (antara 3 sampai 5 orang).
Dalam pembelajaran kooperatif masing-masing siswa anggota kelompok
bertanggung jawab terhadap keberhasilan diri dan anggotanya. Mereka harus
saling membantu melaksanakan tugas yang diberikan kepada kelompoknya
sehingga setiap anggota kelompok mencapai potensi optimal yang mungkin
diraihnya. Sampai saat ini sudah cukup banyak tipe pembelajaran kooperatif
yang dikembangkan, diantaranya adalah Students Team Achievement
Divisions (STAD), Teams Games Turnament (TGT), Jigsaw, Team Assisted
Individralization (TAI), Group Investigation (GI), dan lain-lain.4
Teams Games Turnament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang menekankan adanya kerjasama antar anggota kelompok
untuk mencapai tujuan belajar. Terdapat empat tahap dalam TGT yaitu
mengajar, belajar kelompok, turnamen/perlombaan, dan penghargaan
kelompok. Hal yang menarik dari TGT dan yang membedakannya dengan
tipe pembelajaran kooperatif yang lain adalah turnamen. Di dalam turnamen,
siswa yang berkemampuan akademiknya sama akan saling berlomba untuk
mendapatkan skor tertinggi di meja turnamennya. Jadi siswa yang
berkemampuan akademiknya tinggi akan berlomba dengan siswa yang
berkemampuan akademiknya tinggi, siswa yang berkemampuan akademiknya
sedang akan berlomba dengan siswa yang berkemampuan akademiknya
sedang, siswa yang berkemampuan akademiknya rendah akan berlomba
dengan siswa yang berkemampuan akademiknya rendah juga. Oleh karena
itu, setiap siswa punya kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik di
meja turnamennya. Hal ini tentu akan memotivasi siswa dalam belajar
sehingga berpengaruh juga terhadap prestasi belajar siswa.
Berdasarkan uraian yang telah diungkapkan diatas, maka perlu suatu
tindakan guru untuk mencari dan menerapkan suatu model pembelajaran yang
sekiranya dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar matematika
siswa. Dalam rangka itu peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan
judul: ” Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games
Turnament) Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa
Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Ar-Rahmah Jabung Malang
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut diatas,
maka dapat dirumuskan rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam
pembelajaran matematika siswa kelas V MI Ar-Rahmah Jabung Malang?
2. Bagaimana peningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas V MI
Ar-Rahmah Jabung Malang dengan diterapkannya pembelajaran
kooperatif tipe TGT?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini
adalah untuk:
1. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam pembelajaran
matematika siswa kelas V MI Ar-Rahmah Jabung Malang.
2. Peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas V MI Ar-Rahmah
Jabung Malang dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe TGT.
D. Hipotesis Penelitian
Jika pembelajaran kooperatif tipe TGT diterapkan dalam proses pembelajaran
Matematika, maka prestasi belajar siswa kelas V MI. Ar-Rahmah Jabung
Malang dapat meningkatkan.
E. Manfaat Penelitian
1. Lembaga atau sekolah
Memberikan masukan pada sekolah yang berkaitan dengan
penggunaan metode pembelajaran kooperatif model TGT untuk dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan sebuah pengajaran yang
lebih baik.
2. Guru
Penggunaan metode pembelajaran kooperatif model TGT ini
diharapkan dapat bermanfaat bagi para guru dalam proses belajar mengajar
sehingga dapat meningkatkan keaktifan, kekreatifan bagi peserta didik dan
juga pemahaman peserta didik sehingga terbentuk proses pembelajaran
yang diinginkan atau tercapainya proses kegiatan belajar mengajar yang
bagus.
3. Siswa
Memberikan pengetahuan, semangat, dorongan serta solusi untuk
belajar lebih giat atau lebih aktif lagi dalam setiap pelajaran yang
disampaikan oleh guru.
4. Peneliti.
Menambah pengetahuan atau wawasan dalam penggunaan metode
pembelajaran kooperatif model TGT sehingga nantinya dapat dijadikan
sebagai bahan, latihan dan pengembangan dalam pelaksanaan proses
belajar mengajar.
5. Bagi Jurusan
Bagi jurusan hasil penelitian sangat bermanfaat dalam rangka
perbaikan sistem pembelajaran, sedangkan bagi dosen yang lain hasil
penelitian dapat digunakan sebagai referensi dalam memilih dan
menerapkan suatu strategi, metode atau media yang sesuai dengan tujuan
atau kompetensi pembelajaran tertentu.
6. Bagi Fakultas/Universitas
Sebagai wahana untuk menjalankan tugasnya dalam mengemban
Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni melaksanakan: (1) pendidikan dan
pembelajaran, (2) penelitian, dan (3) pengabdian kepada masyarakat,
terlebih fakultas ini memiliki tugas menghasilkan calon-calon guru
profesional di masa depan. Dengan demikian hasilnya dapat dijadikan
sebagai bahan masukan dalam mempersiapkan calon guru di masa yang
akan datang dan juga sebagai pengembangan keilmuan khususnya masalah
pembelajaran.
F. Definisi Operasional
Dalam pembahasan skripsi ini agar lebih terfokus pada permasalahan
yang akan dibahas, sekaligus menghindari terjadinya persepsi lain mengenai
istilah-istilah yang ada, maka perlu adanya penjelasan mengenai definisi
istilah dan batasan-batasannya.
Adapun definisi dan batasan istilah yang berkaitan dengan judul
dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Belajar dan pembelajaran, belajar merupakan suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan, baik itu
perubahan kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil pengalamannya
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan pembelajaran
merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk memudahkan siswa dalam
mencapai tujuan atau keberhasilan yang diharapkan.
2. Belajar matematika pada hakekatnya adalah berkenaan dengan ide-ide,
struktur yang diatur menurut aturan yang logis.
3. Metode pembelajaran kooperatif adalah aktivitas belajar oleh kelompok
kecil siswa yang di dalamnya terjadi kerja sama, saling menyumbangkan
pikiran untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok, pemecahan masalah
dan tanggung jawab terhadap pencapaian hasi belajar secara individu
maupun kelompok.
4. Metode pembelajaran kooperatif model teams games tournament (TGT)
adalah salah satu model pembelajaran yang merupakan bagian dari metode
belajar kooperatif. Melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada
perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan
mengandung unsur permainan dan reinforcement.
5. Prestasi Belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang
mengakibatkan perubahan diri individu sebagai hasil dari aktivitas
belajar.5
G. Sistematika Pembahasan
Penulisan penelitian ini , peneliti bagi menjadi 4 (empat) bab, tiap bab
menjadi sub bab yaitu sebagai berikut :
Bab I
Bab II
:
:
Pendahuluan yang menggambarkan masalah-masalah yang
akan dibahas pada bab berikutnya, terdiri dari latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis
penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan
sistematika pembahasan.
Merupakan kajian teoritik yang menjelaskan tentang
pengertian Belajar dan Pembelajaran, Belajar Matematika,
Metode Pembelajaran Kooperatif dan Metode Pembelajaran
Kooperatif model Teams Games Tournament (TGT), dan
Prestasi Belajar.
Merupakan bab yang menerangkan tentang metode
pendekatan yang digunakan peneliti dalam pembahasannya
yang meliputi: pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran
peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur
pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan
temuan, tahap-tahap penelitian.
Merupakan bab yang memaparkan latar belakang obyek
penelitian dan paparan data.
Merupakan pembahasan hasil penelitian untuk menjawab
masalah penelitian
Penutup memuat tentang: kesimpulan, saran, dan bagian
akhir. Bagian akhir ini terdiri dari: daftar rujukan, lampiranlampiran,
dan daftar riwayat hidup.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Kata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu ”prestasi” dan
”belajar”. Untuk memahami pengertian prestasi belajar, maka perlu
diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan ”prestasi” dan apa
yang dimaksud dengan ”belajar”.
Kata prestasi berasal dari bahasa belanda yaitu ”Presesatie” yang
kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi ”prestasi” yang berarti hasil
usaha.6
Mas’ud Hasan Abdul Qohar berpendapat prestasi adalah apa yang
telah diciptakan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan
jalan keuletan kerja.7
Sementara itu Widodo dalam kamus ilmiah populer berpendapat,
bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai.8
Pada umumnya prestasi ini digunakan untuk menunjukkan suatu
pencapaian tingkat keberhasilan tentang suatu tujuan atau bukti suatu
keberhasilan.
Dari beberapa pendapat, penulis dapat melihat beberapa unsur dari
definisi prestasi yaitu adanya usaha dan hasil yang dicapai. Berangkat dari
unsur-unsur ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa prestasi adalah
suatu hasil yang telah dicapai seseorang, baik itu menyenangkan hati
ataupun tidak, berkat adanya usaha yang keras.
Sedangkan belajar menurut Slameto adalah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya.9
Sedangkan menurut Drs. M Uzer Usman belajar adalah suatu
proses perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia. Perubahan
tingkah laku ini bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat
fisiologis atau proses kematangan. Perubahan yang terjadi karena belajar
dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan, kecakapan atau
dalam ketiga aspek yakini pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan
ketrampilan (psikomotorik).10 Sementara itu Dr. Arief S. Sadiman
berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses komplek yang terjadi pada
semua orang dan berlangsung seumur hidup sejak dia masih bayi hingga
keliang lahat nantiDari pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa secara umum
pengertian prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah
mengadakan perubahan tingkah laku berkat pengalamannya dalam
berinteraksi dengan lingkungannya, atau lebih ringkasnya adalah bukti
keberhasilan yang dapat dicapai seseorang dalam kegiatan belajarnya.
Seseorang telah belajar kalau terdapat perubahan tingkah laku
dalam dirinya. Perubahan tersebut hendaknya terjadi sebagai akibat
interaksi dengan lingkungannya. Tidak karena proses pertumbuhan fisik
atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obatobatan.
Kecuali perubahan tersebut bersifat relatif permanen, tahan lama
dan menetap, tidak berlangsung sesaat saja.
Prestasi belajar merupakan suatu hal yang bersifat Perennial.
Dalam sejarah kehidupannya, manusia selalu mengejar prestasi menurut
bidang dan kemampuan masing-masing. Bila demikian halnya, kehadiran
prestasi belajar dalam kehidupan manusia pada tingkat dan jenis tertentu
dapat memberikan kepuasan tertentu pula pada manusia, khususnya yang
masih berada pada bangku sekolah.
Maka kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar
siswa sebagaimana yang terurai diatas adalah ”mengetahui garis-garis
besar indikator (penunjuk adanya prestasi tersebut) diakitkan dengan jenis
prestasi yang hendak diungkapkan atau diukurPengambilan keputusan tentang hasil belajar ini merupakan suatu
keharusan yang harus dilakukan oleh guru untuk menentukan tinggi
rendahnya prestasi belajar siswa. Disamping itu penilaian terhadap prestasi
belajar siswa juga untuk memahami dan mengetahui tentang siapa dan
bagaimana peserta didik itu, pemahaman tentang peserta didik ini untuk
mengetahui kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang
dimilikinya, agar mempermudah dan membantu guru dalam
mengembangkan program pengajaran yang harus diberikan.
Oleh karena itu dengan adanya evaluasi atau test maka akan
diketahui sejauh mana kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu
aktivitas dan juga untuk memotivasi siswa agar lebih giat belajarnya atau
dengan kata lain siswa akan mengetahui prestasi belajarnya dalam kurun
waktu tertentu.
Sedangkan untuk menentukan nilai akhir dan mengukur prestasi
belajar siswa, maka perlu evaluasi yang bisa berupa test formatis maupun
test sumatif. Akan tetapi sebelum melakukan evaluasi perlu disusun
standar penilaian terlebih dahulu untuk menentukan tinggi rendahnya
prestasi belajar siswa dengan harapan mendapat data sebagai bahan
informasi guna mempermudah dalam melaksanakan evaluasi terhadap
kegiatan pengajaran.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor,
baik berasal dari dalam dirinya (Internal) maupun dari luar dirinya(eksternal). Prestasi belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya
merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu
pengenalan guru terhadap faktor yang dapat mempengaruhi prestasi
belajar siswa penting sekali artinya dalam rangka membantu siswa
mencapai prestasi belajar yang seoptimal mungkin sesuai dengan
kemampuan masing-masing.
Makmun dalam buku Mulyasa komponen-komponen yang terlibat
dalam pembelajaran, dan berpengaruh terhadap prestasi belajar adalah:
a. Masukan mentah menunjukkan pada karakteristik individu yang
mungkin dapat memudahkan atau justru menghambat proses
pembelajaran.
b. Masukan instrumental, menunjuk pada kualifikasi serta kelengkapan
sarana yang diperlukan, seperti guru, metode, bahan, atau sumber dan
program.
c. Masukan lingkungan, yang menunjuk pada situasi, keadaan fisik dan
suasana sekolah, serta hubungan dengan pengajar dan teman.
Uraian di atas menunjukkan bahwa prestasi belajar bukanlah
sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi merupakan hasil berbagai faktor yang
melatar belakanginya. Dengan demikian, untuk memahami tentang
prestasi belajar, perlu didalami faktor-faktor yang mempengaruhinyaa. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
peserta didik dapat digolongkan kedalam faktor sosial dan non sosial.
1) Faktor sosial menyangkut hubungan antar manusia yang terjadi
dalam situasi sosial. Termasuk lingkungan keluarga, sekolah,
teman dan masyarakat pada umumnya.
2) Sedangkan faktor non sosial adalah faktor-faktor lingkungan yang
bukan sosial seperti lingkungan alam dan fisik, misalnya keadaan
rumah, ruang belajar, fasilitas belajar, buku-buku sumber dan
sebagainya.
Faktor Eksternal dalam lingkungan keluarga baik langsung
maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pencapaian hasil
belajar peserta didik. Di samping itu, di antara beberapa faktor
eksternal yang mempengaruhi proses dan prestasi belajar ialah
peranan faktor guru atau fasilitator. Dalam sistem pendidikan dan
khususnya dalam pelajaran yang berlaku dewasa ini peranan guru dan
keterlibatannya masih menempati posisi yang penting. Dalam hal ini
efektivitas pengelolahan faktor bahan, lingkungan, dan instrumen
sebagai faktor-faktor utama yang mempengaruhi proses dan prestasi
belajar, hampir keseluruhannya bergantung pada guru.
Proses pembelajaran tidak berlangsung satu arah melainkan
secara timbal balik. Kedua pihak berperan secara aktif dalam kerangka
kerja, serta dengan menggunakan cara dan kerangka berfikir yangseyogyanya dipahami dan disepakati bersama. Tujuan interaksi
pembelajaran merupakan titik temu yang bersifat mengikat dan
mengarahkan aktivitas kedua belah pihak. Dengan demikian Kriteria
keberhasilan pembelajaran hendaknya ditimbang atau dievaluasi
berdasarkan tercapai tidaknya tujuan bersama tersebut.
Faktor sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan
belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang
tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga dan demografi
keluarga (letak rumah) semuanya dapat memberi dampak baik atau
buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.
Contoh: kebiasaan yang diterapkan orang tua dalam memonitor
kegiatan anak dapat menimbulkan dampak lebih buruk lagi. Dalam hal
ini bukan saja anak tidak mau belajar melainkan juga ia cenderung
berperilaku menyimpang, terutama perilaku menyimpang yang berat
seperti anti sosial.
b. Faktor Internal
Uzer mengklasifikasikan faktor internal mencakup:
1) Faktor Jasmaniah (fisiologi), yang bersifat bawaan maupun yang
diperoleh. Yang termasuk faktor ini ialah panca indera yang tidak
berfungsi sebagaimana mestinya, seperti mengalami sakit, cacat
tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna, berfungsinya
kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.
2) Faktor psikologi, baik yang bersifat bawaan maupun yang
diperoleh terdiri atas:
a) Faktor Intelektif yang meliputi faktor potensial yaitu
kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata, yaitu
prestasi yang dimiliki.
b) Faktor Non Intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu
seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi,
dan penyesuaian diri.
3) Faktor kematangan fisik maupun psikis, faktor yang berasal dari
diri sendiri (Internal), seperti Intelegensi, minat, sikap dan
motivasi.
Intelegensi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap tinggi rendahnya prestasi belajar. Intelegensi merupakan
dasar potensial bagi pencapaian hasil belajar, artinya hasil belajar yang
dicapai akan bergantung pada tingkat Inteligensi. Dan hasil belajar
yang dicapai tidak akan melebihi tingkat Intelegensinya. Semakin
tinggi tingkat intelegensi, makin tinggi pula kemungkinan tingkat hasil
belajar yang dapat dicapai. Jika intelegensinya rendah. Maka
kecenderungan hasil yang dicapainyapun rendah. Meskipun demikian,
tidak boleh dikatakan bahwa taraf prestasi belajar disekolah kurangpastilah Inteligensinya kurang, karena banyak faktor lain yang
mempengaruhinya.14
Minat yaitu kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu. Oleh karena itu minat dapat
mempengaruhi pencapaian hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu.
Sikap adalah gejala Internal yang berdimensi afektif, berupa
kecenderungan untuk merespon dengan cara yang relatif tetap tehadap
obyek orang, barang dan sebagainya baik secara positif maupun
negatif.
Selain faktor di atas yang mempengaruhi, prestasi belajar juga
dipengaruhi oleh waktu dan kesempatan. Waktu dan kesempatan yang
dimiliki oleh setiap individu berbeda sehingga akan berpengaruh
terhadap perbedaan kemampuan peserta didik. Dengan demikian
peserta didik yang memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk
belajar cenderung memiliki prestasi yang tinggi dari pada yang hanya
memiliki sedikit waktu dan kesempatan untuk belajar.
3. Usaha Kearah Peningkatan Prestasi Belajar
Berhasil atau tidaknya peserta didik belajar sebagian besar terletak
pada usaha dan kegiatannya sendiri, disamping faktor kemauan, minat,
ketekunan, tekad untuk sukses, dan cita-cita tinggi yang mendukung setiap
usaha dan kegiatannya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan
prestasi belajar antara lain:
a. Keadaan Jasmani
Untuk mencapai hasil belajar yang baik, diperlukan jasmani
yang sehat, karena belajar memerlukan tenaga, apabila jasmani dalam
keadaan sakit, kurang Gizi, kurang istirahat maka tidak dapat belajar
dengan efektif.
b. Keadaan Sosial Emosional.
Peserta didik yang mengalami kegoncangan emosi yang kuat,
atau mendapat tekanan jiwa, demikian pula anak yang tidak disukai
temannya tidak dapat belajar dengan efektif, karena kondisi ini sangat
mempengaruhi konsentrasi pikiran, kemauan dan perasaan.
c. Keadaan lingkungan
Tempat belajar hendaknya tenang, jangan diganggu oleh
perangsang-perangsang dari luar, karena untuk belajar diperlukan
konsentrasi pikiran. Sebelum belajar harus tersedia cukup bahan dan
alat-alat serta segala sesuatu yang diperlukan.
d. Memulai pelajaran
Memulai pelajaran hendaknya harus tepat pada waktunya, bila
merasakan keengganan, atasi dengan suatu perintah kepada diri sendiri
untuk memulai pelajaran tepat pada waktunya.
e. Membagi pekerjaan
Sewaktu belajar seluruh perhatian dan tenaga dicurahkan pada
suatu tugas yang khas, jangan mengambil tugas yang terlampau berat
untuk diselesaikan, sebaiknya untuk memulai pelajaran lebih dulu
menentukan apa yang dapat diselesaikan dalam waktu tertentu.
f. Adakan kontrol
Selidiki pada akhir pelajaran, hingga manakah bahan itu telah
dikuasai. Hasil baik menggembirakan, tetapi kalau kurang baik akan
menyiksa diri dan memerlukan latihan khusus.
g. Pupuk sikap optimis
Adakan persaingan dengan diri sendiri, niscaya prestasi
meningkat dan karena itu memupuk sikap yang optimis. Lakukan
segala sesuatu dengan sesempurna, karena pekerjaan yang baik
memupuk suasana kerja yang menggembirakan.
h. Menggunakan waktu
Menghasilkan sesuatu hanya mungkin, jika kita gunakan waktu
dengan efisien. Menggunakan waktu tidak berarti bekerja lama sampai
habis tenaga, melainkan bekerja sungguh-sungguh dengan sepenuh
tenaga dan perhatian untuk menyelesaikan suatu tugas yang khas.
i. Cara mempelajari buku
Sebelum kita membaca buku lebih dahulu kita coba
memperoleh gambaran tentang buku dalam garis besarnya.j. Mempertinggi kecepatan membaca
Seorang pelajar harus sanggup menghadapi isi yang sebanyakbanyaknya
dari bacaan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Karena itu harus diadakan usaha untuk mempertinggi efisiensi
membaca sampai perguruan tinggi.
Untuk suatu tindakan yang efisien diperlukan adanya kesiapan
dalam diri individu baik kesiapan fisik maupun kesiapan mental. Demikian
pula dalam belajar, kesiapan ini merupakan hal yang esensial.15
Kesiapan dapat diartikan sebagai sejumlah pola-pola respon atau
kecakapan tertentu yang diperlukan untuk suatu tindakan. Pada dasarnya
kesiapan merupakan kapasitas fisik maupun mental untuk belajar, disertai
harapan ketrampilan yang dimiliki dan latar belakang untuk mengerjakan
sesuatu. Seseorang dikatakan siap untuk sesuatu buku bila mempunyai
latar belakang pengetahuan untuk memahami isi buku, mempunyai
kemauan untuk melakukannya, dan mempunyai harapan ketrampilan
tertentu yang akan dimiliki sesudah mempelajari buku tersebut.
B. Belajar dan Pembelajaran
1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Menurut Arifin belajar merupakan proses aktif siswa untuk
mempelajari dan memahami konsep-konsep yang dikembangkan dalam
kegiatan belajar mengajar, baik individual maupun kelompok, baikmandiri maupun dibimbing. Dorongan untuk belajar ini bisa berasal dari
dirinya sendiri yang disebut motivasi instrinsik dan dorongan yang datang
dari luar dirinya yaitu disebut dengan motivasi ekstrinsik16.
Menurut Dimyati & Mudjiono belajar merupakan hal yang
kompleks. Kompleks belajar ini dapat dipandang dari dua aspek, yaitu dari
siswa dan dari guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses.
Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Dari
segi guru proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku tentang suatu
hal. Belajar merupakan proses internal yang kompleks yang meliputi
seluruh ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor17.
Dalam belajar siswa akan mengalami proses perubahan tingkah
laku baik itu perubahan kognitif, afektif, maupun psikomotor. Slameto
mengemukakan “belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya” 18.
Perubahan yang terjadi dalam hal ini banyak sekali, dan tentunya
tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam
arti belajar. Menurut Fontana belajar adalah “proses perubahan tingkah
laku individu yang relatif tetap sebagai hasil pengalaman, sedangkanpembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi
nuansa agar program pembelajaran tumbuh dan berkembang secara
optimal”19. Menurut Djamarah belajar yaitu “serangkaian kegiatan jiwa
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan yang menyangkut
kognitif, afektif, dan psikomotorik” 20.
Menurut Winkel belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pengetahuan, ketrampilan dan
nilai sikap. Seorang guru mengetahui dari pengalaman bahwa kehadiran
siswa dalam kelas belum berarti siswa sedang belajar, selama siswa tidak
melibatkan diri dia tidak akan belajar. Sehingga supaya terjadi belajar
dituntut orang melibatkan diri dan harus ada interaksi aktif21.
2. Ciri-Ciri Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks.
Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa
adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses
belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan
sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam,
benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia atau hal-hal yang
19 Selvia, Belajar. 2008, (http://tpers.net/?p=935) hal. 1. Diakses tanggal 28 Maret 2009
20 Djamarah, Syaiful dan Zain Aswan, Strategi Belajar Mengajar (Jakartadijadikan bahan belajar. Tindakan belajar tentang sesuatu hal tersebut
tampak sebagai perilaku belajar yang tampak dari luar.22
Pada pendidikan formal, guru adalah praktisi yang paling
bertanggung jawab atas berhasil tidaknya program pembelajaran di
sekolah/madrasah, sebab guru merupakan ujung tombak atau memiliki
peran sentral dalam kegiatan pembelajaran di ruang kelas. Sebagai seorang
praktisi yang berhadapan langsung dengan siswa sehari-hari, guru pasti
pernah menghadapi masalah berkaitan dengan pekerjaannya. Sebagai
seorang pendidik ia berkeinginan akan apa yang akan diajarkannya atau
sedang dibahas dengan siswa dapat dipahami atau diserap oleh siswa
seoptimal mungkin, namun seringkali tidak sesuai dengan apa yang ia
harapkan.
Pada saat ini kebanyakan strategi yang digunakan oleh guru dalam
kelas-kelas tradisional pada umumnya meliputi: penggunaan ceramah,
tanya jawab, penjelasan, pemberian ilustrasi, pendemonstrasian, atau
mengarahkan siswa secara langsung ke sumber informasi selama
pembelajaran berlangsung, atau menggunakan buku teks untuk pemberian
tugas-tugas rumah. Semua itu dirancang dan seringkali dijalankan oleh
guru, sementara siswa hanya melihat.
Model pembelajaran seperti itu terbukti gagal mencapai tujuan
pembelajaran secara maksimal, sehingga pada saat ini banyak sekali
beberapa konsep pembelajaran yang diperkenalkan untuk mendongkrakketerpurukan mutu pembelajaran. Beberapa konsep pembelajaran tersebut
antara lain: Active Learning, Contekstual Teaching Learning dan lain
sebagainya, yang pada intinya menawarkan strategi pembelajaran yang
mengutamakan aktivitas siswa dari pada aktivitas guru. Untuk tujuan
inilah guru seharusnya memiliki keberanian untuk melakukan berbagai uji
coba terhadap suatu metode mengajar, membuat suatu media murah, atau
penerapan suatu strategi mengajar tertentu yang secara teoritis dapat
dipertanggungjawabkan untuk memecahkan permasalahan pembelajaran.
Dalam hal ini yang paling penting adalah ”seberapa jauh modelmodel
pembelajaran tersebut mampu memfasilitasi peserta didik
memperoleh pengalaman belajar yang mencerminkan penguasaan suatu
kompetensi yang dituntut kurikulum? Oleh karena itu, agar diperoleh
model pembelajaran yang efektif untuk mengimplementasikan kurikulum
berbasis kompetensi perlu memperhatikan pula krucut pengalaman belajar
yang dikemukakan Peter Sheal sebagaimana digambarkan dalam krucut
pengalaman di bawah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Afifuddin, Nur. 29 Maret 2009. Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Konsep
Jamur Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered-Head-
Together Siswa Kelas X-5 SMA Negeri 1 Gebog
(http://begawanafif.blogspot.com/2009/02/meningkatkan-hasil-belajarbiologi.
htmlperbedaansmpn1boyolali.files.wordpress.com/2008/07/coop
erativ-l.pptIbrahim)
Arifin, Zainal. 1991. Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Arifin. 2003. Strategi Belajar Mengajar Kimia. Jakarta: Jurusan Pendidikan
Kimia FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Azizah, Siti Nurlailah. 2004. “Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa
Antara Siswa Yang Diajar Dengan Pembelajaran Kooperatif Model TGT
Dan Siswa Yang Diajar Dengan Pembelajaran Konvensional Pada
Pokok Bahasan Statistika Siswa Kelas VIII SLTPN 2 Malang Tahun
Ajaran 2003/2004”, Skripsi, FMIPA UM Malang.
Djamarah, Syaiful Bakri. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya:
Usaha Nasional.
Djamarah, Syaiful dan Zain Aswan. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta.
Erman, S. Ar. 2003. Evaluasi Pembelajaran Matematika. Bandung:
IMSTECJKA.
Heriani, Korelasi Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Dengan Prestasi
Belajar Matematika di SMU. (http://diakses tanggal 28 Maret 2009)
Hidayah, Khusnul. 2005. “Perbedaan Prestasi Belajar Antara Siswa yang Diajar
menggunakan Pembelajaran kooperatif Model TGT dan Siswa yang
Diajar Menggunakan Ekspository Pada Pokok Bahasan Toerema
Phytagoras di MTSN II Malang”, Skripsi, FMIPA UM Malang.
Is, Siti Rosmawar. 28 Maret 2009. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative
Learning) Dan Kaitannya Dalam Meningkatkan Kapasitas Siswa
(|http://jurnal-kompetensi.blogspot.com/2008/02/model-pembelajarankooperatif.
html).
Kahfi, Shohibul. 2003. Pembelajaran Kooperatif dan Pelaksanaannya dalam
Pembelajaran Matematika. Malang: FMIPA UM.
Mardalis. 2006. Metode Penelitian suatu pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi
Aksara.
Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Muslimin, & Ibrahim. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA.
Mujiono, & Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nasution, Wahyudin Nur. 28 Maret 2009. Efektivitas Strategi Pembelajaran
Koperatif dan ekspositori Terhadap Hasil Belajar Sains Ditinjau Dari
Cara Berpikir (http://rafiud.wordpress.com/assalamualaikum/ciri
kooperatif).
Noornia, Anton. 2005. “Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan STAD
(Student Teams Achievment Divisioan) pada Pengajaran Persen Kelas
VI SD Islam Maarif 02 Singosari”, Skripsi,FMIPA UM Malang.
Qohar, Mas’ud Hasan Abdul. 1983. Kamus Ilmu Populer. Jakarta: Bintang
Pelajar.
Rahayu, Sri. 1998. Pembelajaran Kooperatif Dalam Pendidikan Ipa Jurnal
Matematika Ipa Dan Pengajarannya.Selvia. 2008. Belajar. 28 Maret
2009 (http://tpers.net/?p=935)
Rusyidah. 2005. “Belajar Kooperatif Model STAD untuk Membantu Pemahaman
Siswa pada Pokok Bahasan Lingkaran di Kelas II SMP Negeri 4
Malang”, Skripsi, FMIPA UM Malang.
R. Soedjadi. 1999/2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Sadiman, Arief. S., dkk. 2003. Media Pendidikan, Pengertian Pengembangan dan
Manfaatnya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sasmito, Heri. 2005. “Perbedaan Efektivitas Pembelajaran Matematika yang
Menggunakan Pendekatan Kooperatif model TGT dengan yang
Menggunakan Metode Ekspositori di SLTP LAB UM”, Skripsi, FMIPA
UM Malang.
Setyosari, Punaji. 2001. Rancangan Pembelajarani: Teori dan Praktek. Malang:
Elang Mas.
Silberman, Melvin L.. 2006. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif.
Bandung: Penerbit Nusamedia.
Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Srie N' Oedhien. 29 Maret 2009. Penerapan Model Cooperative Learning Teknik
Jigsaw (http://s1pgsd.blogspot.com/2008/12/penerapan-modelcooperative-
learning.html)
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Usman, M. Uzer. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Verawati, Usnida Junaeka. 2005. ”Perbedaan Prestasi Belajar Matematika siswa
kelas 1 SMP Negeri 6 Malang Melalui Pendekatan Pembelajaran
Kooperatif Model Jigsaw dan Ekspositori Pada Sub Pokok Bahasan
Keliling, Luas Persegi dan Persegi Panjang”, Skripsi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UM Malang.
Widodo. 2000. Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: Absolut
Wijayanti, Ichad Carry. 2002. Perbandingan Prestasi Belajar Antara Siswa yang
diajar dengan Pembelajaran Kooperatif Model STAD dan Pembelajaran
Konvensional pada Bahasan Dinamika Gerak Lurus di SMUN 5
Malang”, Skripsi, FMIPA UM Malang.
W.S. Winkel. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.
--------------------http://www.damandiri.or.id/file/yusufunsbab2.pdf. 29 Maret 2009